Mother Culture Workshop : Kerja Spiritual Orangtua Adalah Melawan Entropi

IMG-20190420-WA0022.jpg

 

Sabtu lalu saya hadir pada sesi workshop Mother Culture bersama Mba Ellen Kristi, Pendiri Charlotte Mason Indonesia.  Pada sesi workshop kali ini, saya merasa dipreteli, diajak naik mesin waktu untuk melihat ke masa lalu dan masa depan. Baru awal pembukaan saja, Mba Ellen sudah bertanya , “Apa sih kerja orangtua itu?” “Kerja spiritual” jawab beliau. Dalam konsep pendidikan CM, ada tiga fondasi untuk membangun pendidikan karakter anak, yaitu atmosfer, disiplin dan living ideas. Pada sesi Mother Culture ini tentu saja yang dibahas adalah atmosfer, bagaimana menciptakan atmosfer yang sehat dalam keluarga ?.

Ternyata untuk menciptakan atmosfer, kita sebagai orangtua tidak hanya perlu berlaku baik di depan anak, tapi juga di belakang anak. Mba Ellen memberi contoh misal ketika anak-anak terjaga, sepanjang hari seorang ibu membersamai si anak dengan penuh cinta dan perhatian, namun saat anak-anak tidur, si ibu begadang asik nonton drama korea hahaha…(duh langsung ketampar walau saya gak suka Korea, tapi saya senang nonton Netflix sambil begadang). Padahal kalau kata Mba Ellen mengutip Gandhi, manusia adalah yang sebenernya saat ia melakukan sesuatu di waktu luang. Jadi kalau orangtua ingin anak-anak menangkap nilai spiritual yang sehat, lakukan lah hal-hal bermanfaat nan berfaedah pada waktu luang, paling gampang dengan membaca misalnya atau berdoa, menambah rakaat shalat dsb. Kesannya gampang kan ? tidak perlu biaya mahal, tidak perlu dandan atau keluar rumah ? Lalu kenapa kita sering abai ? Saya pada khususnya kadang juga begitu.

To Grow Up Is Unnatural

Kira-kira begitu jawabannya mengapa untuk hal kecil yang menyehatkan kita sering kali malas dan abai ? Karena menjadi dewasa adalah proses yang tidak alami pada diri kita. Yang alami adalah kekuatan entropi yang ada pada diri kita yang terus menarik kita bagai daya gravitasi bumi. Sehari-hari, sepanjang kita menghembuskan dan menarik nafas, kita sedang berjuang melawan dua macam kekuatan entropi yaitu malas dan takut. Karena itulah, menjadi dewasa bukan hanya tidak natural, tapi juga sulit dan menyakitkan. Ada penderitaan terlebih dulu yang harus dilewatkan sebelum akhirnya kita bisa merasa happy dan content. Tapi oh tetapi, remaja bermasalah yang tega membacok temannya bangga dengan apa yang dia lakukan, buktinya perbuatannya ia pamerkan di status sosial medianya. Artinya ? bahagiakah si remaja ? iya bahagia. Bahagia yang seperti apa ? tentu saja bukan bahagia yang berkualitas. Bahagia yang dimaksud pada tulisan ini tentu saja bahagia yang berkualitas, bahagia spiritual, bukan bahagia materiil. 

The Era of Romanticism

Dalam hal pernikahan, imbas era romantisisme adalah kebiasaan mengagung-agungkan cinta. Sedikit gambarannya mungkin saat pacaran  kita bisa berkata “Aku cinta kamu, kamu ngupil aja ganteng” begitu sepuluh tahun menikah misalnya “Si kampret ngupil mulu (dalam hati), sambil bilang, Mas kalau sudah ngupil tolong dilap ya tangannya baru pegang anak-anak” hahaha. Kemudian ada lagi sederet drama, film, akun instagram selebritas dan novel yang semuanya memperlihatkan bahwa romantis adalah mendayu-dayu, ciuman di bawah hujan..pret !! . Sehingga seringkali kita mencari pasangan yang cocok, yang romantis (ukuran macam apa ini) LOL, padahal saat kita percaya bahwa manusia tidak ada yang sempurna, maka kecocokan adalah mustahil, maka dari itu kecocokan adalah proses. Sebuah proses yang harus diperjuangkan bersama, proses yang bisa mendewasakan kita, karena apa ? karena in marriage there is no way out, tidak ada jalan keluar selain terus belajar, belajar menerima perbedaan satu sama lain dan bagaimana dengan perbedaan itu suami dan istri tetap bertumbuh. So how ? how to keep our sanity in this marriage ?

Examine Insecure Thoughts

Pertama-tama kita harus rajin refleksi diri. Melihat ke dalam atau ngecek nih apakah dalam alam pikiran kita ada insecure thoughts, misalnya membayangkan sesuatu yang menakutkan seperti kehilangan atau menyakiti diri sendiri atau orang lain, membenci terlalu dalam pada diri sendiri atau orang lain dan memiliki terlalu banyak unfulfilled demands. Jika sudah refleksi dan menemukan bahwa dalam pikiran kita ada insecure thoughts tersebut lanjut lagi kembali refleksi. Kali ini refleksi apa sih emosi dominan kita? apakah marah-marah (aktif) atau justru diam (pasif) seribu bahasa menghadapi insecure thoughts tersebut ?. Jika Anda tipe pemarah maka lakukan yang tidak enak menurut Anda yaitu belajarlah untuk diam, jika Anda termasuk tipe diam maka lakukan sebaliknya, coba lah untuk speak up. Dalam kasus saya yang pendiam dan pasrah berharap suami dapat membaca pikiran saya, maka saya harus belajar untuk lebih banyak bicara. Tentunya dengan tetap kalem dan melihat kondisi emosional lawan bicara juga.

Petakan Tujuan

Terakhir, untuk tetap waras dalam menjalani hidup sebagai orangtua, petakan tujuan!! . Sama seperti kapal yang tak tahu tujuannya kemana, seberapa pun canggihnya alat navigasi yang dimiliki tentu akan terombang-ambing di lautan, bingung mau berlabuh di pulau mana. Sama halnya dengan hidup kita sebagai orang tua, petakan tujuan kita, ingin apa ? ingin karir menjulang tinggi ? ingin cari uang sebanyak-banyaknya agar bisa bayar tuition fee Harvard ? atau ingin memperkuat bonding dengan anak sampai akhir hayat ? . Bebas saja namun kembali lagi ke poin di atas bahwa manusia adalah makhluk spiritual bukan materiil. Kalau sudah tau petanya, sadari realitas, duh bagaimana mau sampai tujuan lha wong suamiku aja dulu gini kok, lha wong suamiku snikah lagi, istri saya juga orangnya begitu deh. Ada hal-hal yang sudah berlalu dan itu adalah realitas yang tidak bisa diubah, apa yang bisa diubah ? masa sekarang dan masa depan. Terdengar klise ya ? tapi kenapa sudah sering dengar seperti ini kok masih saja kadang kita tersesat? karena proses pendewasaan dan kerja spiritual itu menyakitkan. Yang menang adalah yang memiliki daya tahan kuat melawan dua kekuatan entropi, malas dan takut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.