Apa Tujuan Pendidikan ?

Charlotte Mason Indonesia-Jakarta

Pertemuan bersama teman-teman dari Charlotte Mason Indonesia (CMid) selalu membuat saya berhenti sejenak dan berefleksi. Seperti saat pertemuan kami di bulan Oktober ini yang membahas filosofi pendidikan membuat saya menerawang jauh dan bertanya kembali “apa tujuan pendidikan ?” . Cukup lama saya merenung dan melihat jauh ke belakang untuk mencari jawaban dari pertanyaan itu, saya mencoba mengingat-ingat apa tujuan pendidikan yang saya tangkap ketika saya memasukan anak saya ke sekolah sejak usia 6 bulan!!. Iya, 6 bulan!! entah kemasukan setan atau sekedar ikut-ikutan pokoknya saya pernah memasukan Kakak ke sebuah lembaga, membayar sekian juta rupiah untuk belajar merangkak hahaha.

Saat melempar anak kita ke sebuah lembaga pendidikan, kadang kita lupa bertanya pada diri sendiri “WHY ?” mengapa anak saya harus sekolah ? cita-cita apa yang dipatok untuk anak-anak saat mereka lulus sekolah ?. Kalau kata Aristotle “Our problem is not that we aim high and miss, but that we aim too low and hit” . Jangan-jangan cita-cita kita terlalu rendah, jangan-jangan cita-cita kita adalah supaya anak lulus UN dengan nilai tertinggi atau diterima di sekolah lanjutan favorit. Kalau boleh jujur dulu cita-cita saya menyekolahkan anak agar supaya dia bisa bertahan secara finansial saat ia dewasa, bagi saya anak harus bisa menemukan pekerjaan yang dapat mendukung kehidupannya dari segi keuangan. Salahkah cita-cita itu ? yang jelas cita-cita seperti itu diamini oleh kebanyakan orang. Sampai menjadi visi pendidikan baru-baru ini yaitu “Kurikulumnya sesuai apps yaa Mas..” Eh gak ding hehe tapi “Kebutuhan lingkungan pekerjaan di masa depan itu sangat berbeda dan selalu berubah. Link and match itu adalah saya akan mencoba menyambung  apa yang akan dilakukan di institusi pendidikan menyambung apa yang dibutuhkan di luar institusi pendidikan”. Sounds familiar ? Tentunya familiar karena ini sudah sejak zaman revolusi industri 1.0 tujuan pendidikan adalah mencetak manusia yang menjadi bahan bakar industri. Bahan bakar ya begitu yaa kalau sudah habis ya hilang diganti bahan bakar baru. Bedanya dulu mungkin untuk mencetak manusia supaya bisa kerja di pabrik sekarang mencetak manusia untuk kerja di Silicon Valley. Lalu, kalau sudah berhasil kerja di pabrik ternama, mau kemana anak-anak kita ? Should they live in a comfortable bubble ? seperti lagu Katy Perry, Chained to The Rhythm. 

Charlotte Mason dalam bukunya The Home Education Series vol 1, halaman 8 merumuskan “Method implies two things-a way to an end, and step by step progress in that way.” Seperti diringkaskan oleh Ellen Kristi bahwa metode pendidikan adalah WHY (Rationale)–WHAT (Curriculum)–HOW (Techniques). 

“As stream can rise no higher than its source, so it is probable that no educational effort can rise above the whole scheme of thought which gives it birth” 

Charlotte Mason vol 1 halaman 1

Jika WHY sudah dirumuskan dan jawaban dari mengapa kita harus mencicipi pendidikan adalah untuk tujuan materialistis, oh bloody hell semoga kita tidak jadi lupa akan pengetahuan tentang realitas yang lebih tinggi yakni realitas malakut dan ruhani. Jika paradigma pendidikan materialistis lebih dominan, maka pengetahuan akan dianggap bernilai jika memiliki kegunaan pragmatis belaka. Apapun agamanya atau bahkan jika tidak memercayai Tuhan sekalipun, usaha demi usaha yang dilalui untuk mengejar kekuasaan, kekayaan dan popularitas setinggi-tingginya akan menjerumuskan manusia pada kesengsaraan akibat kegagalan menjadikan sarana duniawi itu sebagai makna hidup dan kebahagiaan sejati bagi pemiliknya. (Bagir, 2019)

Saya jadi ingat duo The Minimalists, Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus yang sudah mempunyai penghasilan 7 digit USD lalu merasa itu semua tidak cukup, justru mereka merasa dalam hidupnya terdapat “gaping void”. Timbul rasa hampa yang mereka merasa perlu segera mengisinya karena kekosongan itu sangat mengganggu, intinya that 7 digit sallary tidak membuat hidup mereka lengkap. Barulah setelah mereka tinggalkan pekerjaan dan mencari makna hidup lewat gaya minimalism perlahan jiwa mereka mulai terisi.

 “Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Soekarno

Kalau tujuan pendidikan saja sudah rendah mau kemana kalau kita jatuh. Jangan sampai berjatuhan bagai penduduk Gotham City. Aim high, patoklah cita-cita pendidikan dengan tinggi, ini anak kita lho bukan anak tuyul. Charlotte Mason bercita-cita anak didiknya menjadi pribadi magnanimous atau dalam Islam kita mengenal Insan Kamil, Rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta. Lain kali ketika memilih sekolah, tanya ke bagian pendaftaran, bagaimana sekolah ini merumuskan :

“Apa itu manusia ?

“Apa tujuan manusia hadir ke dunia ini?”

“Apa tujuan pendidikan ?”

atau kasih saja puisi Rudyard Kipling ini dan tanya, apa sekolah ini bisa mencetak anak saya jadi seperti ini ?

If you can keep your head when all about you   

Are losing theirs and blaming it on you,   

If you can trust yourself when all men doubt you,

But make allowance for their doubting too;   

If you can wait and not be tired by waiting,

Or being lied about, don’t deal in lies,

Or being hated, don’t give way to hating,

And yet don’t look too good, nor talk too wise:

If you can dream—and not make dreams your master;   

If you can think—and not make thoughts your aim;   

If you can meet with Triumph and Disaster

And treat those two impostors just the same;   

If you can bear to hear the truth you’ve spoken

Twisted by knaves to make a trap for fools,

Or watch the things you gave your life to, broken,

And stoop and build ’em up with worn-out tools:

If you can make one heap of all your winnings

And risk it on one turn of pitch-and-toss,

And lose, and start again at your beginnings

And never breathe a word about your loss;

If you can force your heart and nerve and sinew

To serve your turn long after they are gone,   

And so hold on when there is nothing in you

Except the Will which says to them: ‘Hold on!’

If you can talk with crowds and keep your virtue,   

Or walk with Kings—nor lose the common touch,

If neither foes nor loving friends can hurt you,

If all men count with you, but none too much;

If you can fill the unforgiving minute

With sixty seconds’ worth of distance run,   

Yours is the Earth and everything that’s in it,   

And—which is more—you’ll be a Man, my son!

Kalau tujuan pendidikan sekolah itu kurang tinggi, then you know what to do. Sebagai penutup saya cuma mau bilang bahwa saya bukan ahli pendidikan, aku hanyalah butiran granola ( biar butiran tetap kece 😀 ). Butiran granola beranak dua yang galau dan berharap yang terbaik untuk anak-anaknya.

Sumber :

The Home Education Series , Charlotte Mason

Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia , Haidar Bagir

The Minimalists, Joshua Fields Millburn & Ryan Nicodemus

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.