Keseharian Menggunakan Metode Charlotte Mason : Living Books dan Narasi

 

IMG_5958

Sering kali ketika berbincang dengan teman soal homeschooling, pasti yang tidak pernah tertinggal untuk ditanyakan adalah soal jadwal pelajaran, buku yang digunakan dan segala hal teknis lainnya. Sebenernya hal teknis ini sifatnya sangat plastis dan fleksibel, orangtua harus sering trial dan error, apa yang cocok di keluarga saya belum tentu cocok di keluarga lain. Dengan menggunakan metode Charlotte Mason pun saya tidak 100% mengacu pada amblesideonline. Suatu kenikmatan dari metode Charlotte Mason adalah metodenya yang memberikan ruang bagi orangtua untuk selalu berefleksi dan menanyakan kembali tujuan dari setiap langkah yang kita ambil. Untuk urusan praktik, bahkan masing-masing praktisi Charlotte Mason pun bisa berbeda-beda, tantangannya adalah bagaimana praktik itu tetap sejalan dengan filosofi ibu Mason.

Sejak homeschooling target saya pada setiap gemblengan akademis anak berubah total. Dulu waktu sekolah, target-target saya sekedar “Yang pentiing PR kamu selesai” “Yang penting guru kamu gak manggil mamah lagi ke sekolah” “Yang penting kamu ngerti dan gak perlu remedial” and worst “Yang penting naik kelas” . Sekarang, sehari-hari salah satu tujuan gemblengan akademis kami adalah memberikan anak sesuatu untuk dipikirkan, sesuatu untuk dilakukan dan sesuatu atau seseorang untuk dicintai, seperti yang dirumuskan oleh Karen Andreola dalam bukunya Charlotte Mason Companion.

Living Books

 

Dalam metode pendidikan ala CM, sajian akademis pada anak haruslah sajian yang kaya dan berisikan ide-ide. Tidak bosan saya menulis tentang ide-ide ini, bukan saja saya mengamini teori ini tapi karena saya sendiri sudah merasakan manfaat praktiknya pada Kakak. Pada awalnya mungkin “ide” terkesan terlalu mengawang-ngawang, apalah ide itu ? konkritnya apa ?. Mengetahui bahwa pada akhirnya manusia adalah makhluk spiritual maka asupannya pun juga harus bersifat spiritual. Idelah yang menurut CM bersifat spiritual dan dapat mengisi budi anak untuk kemudian ia cerna.

Metode CM menganjurkan bahwa ide-ide ini dapat diberikan pada anak melalui buku-buku hidup, buku yang penulisnya sangat menjiwai bidangnya dan menulis dengan gaya tutur naratif dan sastrawi. Dengan mempertemukan anak dengan pikiran-pikiran lain, maka kita memberikan kesempatan pada anak untuk berpikir. Sehingga semua mata pelajaran yang disajikan sebisa mungkin saya hadirkan menggunakan living books. Dengan mengisi pikiran, sebagai orangtua kita tidak perlu terlalu pusing memikirkan urusan teknis, setidaknya untuk praktek dan riset lanjutan anak bisa mandiri melakukannya tanpa kita perlu memberi arahan berlebihan.

Saat mendalami buku Kepulauan Nusantara karya Alfred Russell Wallace di Year 4 ini, saya nyaris tidak pernah memberikan tes berupa worksheet atau instruksi lain selain meminta Kakak untuk menarasikan lisan atau tulisan. Lalu setelah lebih dari 3 bulan membaca bersama buku Wallace ini, tiba-tiba saja Kakak membuat tulisan sendiri tentang petualangan dia di rumah aja bersama hewan peliharaannya. Sebagian kecil tulisan ini bisa dilihat di blog Fauna Malaika. Blog dan tulisan itu Kakak buat atas inisiatif sendiri, bukan tugas atau instruksi dari saya, semuanya dia buat karena ingin punya catatan kayak Wallace katanya. Jadi, saat tugas pendidik hanya menyajikan ide, urusan praktik kita tidak perlu repot, biarkan saja si anak merelasikan ide yang ia dapat dengan gaya dan ciri khas masing-masing. Di Kakak bisa menjadi tulisan, mungkin di anak lain bisa menjadi miniatur kebun binatang, lukisan atau apa saja.

Narasi

Pada paragraf sebelumnya saya sempat menyebut tentang narasi, apa sih narasi itu ? Untuk menjelaskan Narasi izinkan saya menarasikan tulisan Karen Andreola dalam buku Charlotte Mason Companion, Bab 14. Sebagai orangtua tentu kita tahu bahwa betapa anak balita senang sekali bercerita. Terkadang kita sampai dibuat pusing dengan kecerewetan anak balita yang terus menerus menceritakan apa saja yang ia alami. Sayangnya begitu masuk fase akademis di sekolah, anak-anak berubah menjadi diam, harus duduk rapih dan api kecerewetan itu pun perlahan padam. CM percaya bahwa seorang anak dikaruniai rasa keingintahuan yang besar dan hasrat menceritakan kembali apa yang mereka tahu. Karunia besar yang dimiliki anak-anak ini menurut CM seharusnya menjadi bagian dalam pendidikan mereka, sehingga CM percaya bahwa narasi (menceritakan kembali apa yang baru saja dibaca) adalah cara paling alami untuk mengajak anak mengendapi pengetahuan yang baru saja didapatnya dari buku. Bagaimana caranya ? di sekolahnya, CM mempraktekan narasi pada anak-anak dengan membacakan nyaring living books kemudian dengan hanya dibacakan satu kali, CM meminta anak-anak menceritakan kembali bacaan tadi. Menurut CM pengetahuan baru bisa dimilikl seseorang jika pengetahuan tersebut sudah dikeluarkan kembali.

“Narrating invites children to meditate, that is to think ideas through to their conclusion. Charlotte Mason observed that what the child digs for himself becomes his own possession. Narration develops the power of self-expression and forces the child to use his own mind and form his own judgement”

Lalu bagaimana kita tahu anak kita mendapat pengetahuan ya? kalau cuma menceritakan kembali sih gak ada muatan akademis kayaknya, apa bedanya dengan hafalan ?. Jawabannya sebenarnya ada pada diri kita masing-masing. Saya percaya bahwa selain harus bisa ngepel dan ganti air galon, jadi orangtua juga harus bisa menjadi researcher. Nah, researcher itu kan meneliti dan mencari jawaban melalui eksperimen, studi pustaka dsb, sekarang coba deh dimulai dengan eksperimen. Baca buku dengan kategori menantang kemudian tulis reviewnya disertai opini atau minta pasangan anda membacakan nyaring buku menantang tersebut dengan single reading lalu anda ceritakan kembali bacaan tadi. Bagaimana rasanya ? apa yang anda dapat ?

“What we may not see is how narration strengthens and challenges all the powers of mind. Attending, remembering, visualizing, comprehending, synthesizing and articulating ..all parent should do is set the table with a varied diet of true and noble ideas ..let the child do the sorting, arranging, correlating, selecting, rejecting and classifying”

Bukan Like and Dislike

 

Dalam menjalani keseharian menggunakan metode CM bukan berarti hafalan menjadi tidak penting juga. Tetap saja drill hafalan dibutuhkan untuk menghafal ayat-ayat suci, terminologi sains, nama-nama tokoh dsb. Seringkali ada anggapan bahwa dengan homeschooling anak-anak bisa fokus pada minat dan bakatnya saja, belajar yang gampang dan anak suka saja. Jika anak dirasa punya bakat pada bidang sastra maka bolehlah kita melupakan matematika dan seni. Oh tentu tidak semudah itu bung !. Dalam metode CM, sajian kurikulum pada anak harus bersifat kaya tanpa diskriminasi mata pelajaran. Sains, Humaniora, Agama semua sama penting.

“Setiap orang menghasrati pengetahuan, karena rasa ingin tahu itu alamiah ada dalam diri siapa saja. Sejarah, geografi, pemikiran orang lain, dengan kata lain humaniora, adalah subjek-subjek yang kita semua minati, dan memang baik jika kita mengetahui semua itu. Demikian pula kita tertarik pada sains, karena kita semua hidup di dunia ini dan ingin tahu lebih banyak tentangnya. Setiap orang butuh keindahan dan ingin tahu cara menilainya, maka seni jadi subjek yang berharga untuk dipelajari. Etika dan ilmu-ilmu sosial mengajari kita cara menjalani hidup. Dan semua orang butuh tahu tentang agama, karena semua orang, bukan hanya yang sedang di medan perang, merindukan Tuhan.” Charlotte Mason Vol.6, Hlm.14

Saya sendiri merasa memang perlu membangun pola pikir tidak mengkotak-kotakan subjek pengetahuan sejak dini. Sudah lewat masanya anak IPA dianggap paling keren ketimbang anak IPS dan Bahasa, begitu juga sebaliknya anggapan bahwa anak Bahasa tidak perlu mendalami IPA. Memang pada prakteknya anak akan menemukan sendiri minatnya dan subjek lain yang dia tidak terlalu suka. Namun jika membiarkan anak memilih mendalami yang dia suka saja, kita perlu bertanya kembali, apakah dalam hidup ini kita hanya perlu melakukan hal-hal yang kita suka saja ?

Bersambung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.