Seperti Apa Belajar Agama Dalam Homeschooling Kami ?

Dalam metode pendidikan Charlotte Mason terdapat 20 butir prinsip pendidikan yang menjadi fondasi. Namun dari 20 butir tersebut sebenarnya hanya dua yang menjadi induk dari butir-butir lainnya. Menurut Karen Glass kedua prinsip induk itu adalah “Children are born persons” dan “Education is the science of relations”. Kali ini saya akan membahas yang kedua terlebih dulu karena terkait dengan pembahasan pada diskusi komunitas Charlotte Mason Jakarta yang sedang membahas tentang Tuhan. Wow berat ya ? ini komunitas parenting atau sekte yang mengkultuskan CM sih ? hahaha. 

Continue reading “Seperti Apa Belajar Agama Dalam Homeschooling Kami ?”

Pintar Saja Tidak Cukup

FullSizeRender

Tujuan pendidikan itu memang harus tinggi, gak bisa main-main. Bahkan tujuan pendidikan harus lebih dari sekedar menjadikan manusia berguna bagi masyarakat. “Belanda yang datang ke sini sebagai penjajah juga berguna bagi masyarakatnya, tapi di sini banyak yang ditindas” begitu celoteh seorang teman dalam diskusi komunitas CM hari ini.

Tanpa tahu tujuan tentunya kita akan kesulitan menentukan langkah, kesulitan menentukan sarana. Hal ini penting karena di era banjir informasi, semua sarana terpampang nyata menunggu untuk kita gunakan, salah satunya adalah kurikulum.

“Kurikulum ini adalah program belajar yang dilandaskan pada hak manusia untuk memperoleh pendidikan. Sangat luas, tapi kita tidak boleh sebut sebagai mustahi, tidak boleh pula kita hanya pilah-pilih bagiannya, mendidiknya di aspek ini tapi tidak di aspek itu. Kita bahkan tidak boleh mendiskriminasi antara sains dan humaniora” Charlotte Mason Vol. 6 Hlm 158

Bagaimana menyusun kurikulum untuk mencapai tujuan mulia pendidikan ? tujuan apakah yang lebih dari “berguna bagi masyarakat” ?

Continue reading “Pintar Saja Tidak Cukup”

Podcast Buat Apa Sekolah : Buku Sebagai Jimat Homeschoooling

Kalau ditanya kegiatan homeschooling-nya ngapain aja ? Jawabannya : Baca Buku !

Setiap hari kami memulai kegiatan akademis yang biasa kami sebut “Kelas” di pagi hari dengan fokus pada buku-buku hidup. Dalam metode Charlotte Mason (CM) buku yang sebaiknya digunakan dikenal sebagai Living Books (LvB), yaitu buku yang menyajikan ide bagi pembacanya. Tidak seperti lawannya yang CM sebut Twaddle, adalah buku yang kering dengan fakta-fakta atau pesan moral yang sudah “dikunyah” terlebih dulu oleh penulisnya. Lalu bagaimana kami menggunakan LvB sebagai sarana belajar dengan metode narasi ?

Continue reading “Podcast Buat Apa Sekolah : Buku Sebagai Jimat Homeschoooling”

Apa Tujuan Pendidikan ?

Charlotte Mason Indonesia-Jakarta

Pertemuan bersama teman-teman dari Charlotte Mason Indonesia (CMid) selalu membuat saya berhenti sejenak dan berefleksi. Seperti saat pertemuan kami di bulan Oktober ini yang membahas filosofi pendidikan membuat saya menerawang jauh dan bertanya kembali “apa tujuan pendidikan ?” . Cukup lama saya merenung dan melihat jauh ke belakang untuk mencari jawaban dari pertanyaan itu, saya mencoba mengingat-ingat apa tujuan pendidikan yang saya tangkap ketika saya memasukan anak saya ke sekolah sejak usia 6 bulan!!. Iya, 6 bulan!! entah kemasukan setan atau sekedar ikut-ikutan pokoknya saya pernah memasukan Kakak ke sebuah lembaga, membayar sekian juta rupiah untuk belajar merangkak hahaha.

Continue reading “Apa Tujuan Pendidikan ?”

Mother Culture Workshop : Kerja Spiritual Orangtua Adalah Melawan Entropi

IMG-20190420-WA0022.jpg

 

Sabtu lalu saya hadir pada sesi workshop Mother Culture bersama Mba Ellen Kristi, Pendiri Charlotte Mason Indonesia.  Pada sesi workshop kali ini, saya merasa dipreteli, diajak naik mesin waktu untuk melihat ke masa lalu dan masa depan. Baru awal pembukaan saja, Mba Ellen sudah bertanya , “Apa sih kerja orangtua itu?” “Kerja spiritual” jawab beliau. Dalam konsep pendidikan CM, ada tiga fondasi untuk membangun pendidikan karakter anak, yaitu atmosfer, disiplin dan living ideas. Pada sesi Mother Culture ini tentu saja yang dibahas adalah atmosfer, bagaimana menciptakan atmosfer yang sehat dalam keluarga ?.

Continue reading “Mother Culture Workshop : Kerja Spiritual Orangtua Adalah Melawan Entropi”

Pendidikan Adalah Keyakinan

Mencari pendidikan alternatif sudah saya lakukan sejak terpapar oleh Totto-Chan. Saking putus asa, saya sempat berpikir apa perlu nih saya masukin anak saya ke Summerhill (A.S Neill) atau sekolah swasta dengan tuition fee setara MM-UI. Namun setelah riset berkepanjangan, juga menimbang masalah biaya, saya pun nyerah. Mungkin memang pendidikan yang saya idam-idamkan itu hanyalah utopia belaka. Sehingga, pergulatan batin pun berakhir dengan kepasrahan dan memasukan Kakak ke sekolahnya hanya dengan pertimbangan jaraknya dekat dari rumah hahaha. Saya pikir pusing-pusing amat lah mikir cari sekolah ideal, lah emang menurut saya semua sama aja, gitu-gitu aja. “Gitu-gitu aja” yang saya maksud adalah dari zaman saya sekolah sampai sekarang ya tidak terlalu banyak perubahan berarti dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia.

Sampai pada suatu ketika turning point itu hadir, saat beragam masalah saya hadapi terkait perilaku, minat belajar dan minat baca Kakak. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengeluarkan Kakak dari sekolah dan menjadi praktisi homeschooling. Beruntung sekali saat akhirnya berani mengambil jalur pendidikan yang non-mainstream ini membawa saya pada sosok Charlotte Mason (CM).

Gara-gara CM saya jadi terbawa untuk berpikir ulang tentang pendidikan, apa sih pendidikan itu ? Nah lho..!!. Jerman pada masa Perang Dunia menjadikan pendidikan bersifat utilitarian, bahasa kerennya azas manfaat hehe, ya kalo lo gak bisa dipake untuk jadi buruh pabrik, bikin senjata atau jadi tentara, yaudah BYE !! . Ini berhubungan nih sama ucapan yang sering kita dengar “Sekolah yang pintar ya supaya bisa cari duit”, Marxis banget dah..haha, apa iya itu tujuan pendidikan ? mengejar materi ?. Menurut CM “Pendidikan haruslah menyentuh jiwa agar para siswa meminatinya” Bah!! apa pula itu korelasi antara jiwa dan pendidikan?. Jawaban dari pertanyaan ini dikembalikan lagi ke kredo utama pendidikan CM yaitu “Anak adalah pribadi utuh”.  CM menilai anak-anak sering dikecilkan dengan memberikan mereka bubur padahal mereka sebenarnya mampu mencerna nasi. Bahwa buku-buku yang tersaji di sekolah sudah dicerna sebelumnya oleh orang dewasa, sehingga anak-anak hanya mendapat sisa lepehan saja pada buku teks. Absennya ide-ide pada buku teks dan materi belajar anak, telah membuat jiwa anak-anak lapar, budi mereka kesepian. Pastinya bukan ini yang CM mau, untuk apa bergelimang materi dan terkenal kalau budi seseorang menjadi kering, kosong atau bahkan mati.

Lalu, bagaimana membuat budi menjadi hidup dan tumbuh sehat ? untuk hal ini CM menawarkan tidak lain dan tidak bukan….eng ing eng ternyata gak jauh-jauh dari kehidupan saya, BUKU. Buku hidup atau Living Books dengan bahasa sastra yang ditulis tanpa merendahkan anak menurut CM dapat menjadi makanan bagi budi anak. Sama seperti tubuh yang membutuhkan makanan sehat, begitu pula dengan budi asupannya harus sehat. Saat anak melakukan perjamuan ide dengan buku-buku berkualitas, saat itulah budi anak tergugah, pikirannya menari-nari. Apakah dengan begini anak-anak dijamin dapat mengerti dan langsung meresapi karya Orwell ? Harper Lee ? . Tenang sis, CM senang sekali dengan yang namanya proses panjang, baby steps yang perlahan tapi tekun.

Dalam mengasah kemampuan literasi, CM mengajak anak-anak untuk menarasikan bacaannya dengan bahasa mereka sendiri. Orangtua atau guru sebagai fasilitator diharapkan tidak melakukan intervensi terlalu banyak dengan mengajukan pertanyaan komprehensif pada anak. Biarkan saja anak-anak mengolah sendiri bacaan mereka, tugas kita adalah menyajikan sebanyak-banyaknya buku berkualitas. Serta sebuah keyakinan besar bahwa kita percaya mereka bisa mencerna ide-ide besar itu secara mandiri, sama seperti kita percaya tubuh anak dapat mencerna sendiri apa yang mereka makan. Secara bertahap kenalkan bacaan berkualitas pada anak, ikuti kemampuannya, jika terlalu sulit turunkan, jika anak sudah mahir naikkan. Percaya bahwa anak adalah pribadi utuh, percaya bahwa mereka bukan makhluk bodoh dan saat kita merasa ragu ingatlah apa kata CM bahwa education is faith, pendidikan adalah keyakinan.

**Tulisan ini adalah bagian dari narasi perjamuan ide bersama para ibu CMers Jakarta. Difasilitasi oleh Mba Ayu Primadini, selama satu bulan ini kami membahas Bab 1 Self Education  dari Vol.6 Towards a Philosophy of Education

Kenapa Saya Memercayakan Alam Untuk Mendidik Anak Saya ?

Sejak memulai homeschooling, saya jadi mulai belajar tentang filosofi pendidikan dari Charlotte Mason (CM). Berawal dari buku Cinta Yang Berpikir karangan Ellen Kristi sampai buku Original Homeschooling Series by Charlotte Mason, a 6-in-1 omnibus collection yang sampai sekarang masih saya coba pahami perlahan-lahan. Karena selain bahasa Inggrisnya tingkat tinggi, jumlah halamannya pun gak kira-kira guys, 1670 halaman saja hahaha. Biasanya saya baca tergantung keingintahuan saya saja, tidak saya baca berurutan dari awal sampai akhir. Dengan mengambil model homeschooling eklektik, saya memilih beberapa metode belajar yang menurut saya paling pas diterapkan di keluarga kami, salah satunya adalah metode belajar dari buah pemikiran Charlotte Mason.

Untuk CM, saya terpesona sekali dengan filosofi beliau yang sangat memanusiakan anak, bagaimana CM mengajak pendidik untuk mencetak anak-anak yang berbudi luhur dengan cara-cara yang lembut tapi tegas. Salah satu cara yang menurut Mason penting dipaparkan pada anak adalah belajar bersama alam.

“The mother reads her book or knits her sock, checking all attempts to make talk; the child stares up into a tree, or down into a flower, doing nothing, thinking of nothing; or leads a bird’s life among the branches, or capers about in aimless ecstasy; quite foolish , irrational doings, but, all the time a fashioning is going on: Nature is doing her part, with the vow”

The Child and Mother Nature, Home Education Part II, Charlotte Mason

 

Segitu dahsyatnya menurut Mason alam ciptaan Tuhan ini sehingga layak menjadi tempat terbaik anak untuk belajar. Apa yang kadang menurut kita orang tua sepele dan cuma nambah-nambah kotor baju aja ternyata manfaatnya luar biasa. Banyak yang bisa dilakukan saat membawa anak mengeksplorasi alam seperti membuat nature journal atau memberikan worksheet dan itu sah-sah saja. Namun, buat saya ketika di alam itu adalah momen intim bagi Kakak, siapa sih yang mau diganggu saat sedang berhubungan intim ? haha LOL, tetap sih saya mendampingi tentunya. Saya biasanya berdiri di samping atau di belakang sambil sesekali berkata “Suara apa itu ?” “Pohon apa itu?” “Kok ada bungkus kacang ya di sungai?”. Ketika bersama alam, saya mengalah, saya biarkan alam yang ambil alih untuk mendidik anak saya. Biarkan alam dengan kelebihan dan kekurangannya menjadi guru untuk melatih theatre of mind Kakak. Terbukti sekali this stealth learning benar-benar membius, saat bersama alam tidak pernah ada kata “Udah yuk mah” terkadang saya mendapati kalimat-kalimat “Can I touch this ?” , “Aku mau duduk dulu sebentar, mau ngadem”, “Burung elang itu mah, elang jawa” . Hal-hal yang tanpa disadari memberikan food for her soul. Siapa yang menyangka juga sejak rutin nature walks, Kakak jadi punya keingintahuan baru soal konservasi. Betapa ia marah ketika tahu banyak sampah di sungai atau lihat berita harimau mati terjerat jebakan kawat. Ini mahal sekali buat saya, rasa keingintahuan yang muncul yang berujung pada pencarian Kakak pada ilmu-ilmu baru. Itulah kenapa saya percayakan alam untuk mendidik anak saya.

“Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga tapi tidak mendengar musik; punya pikiran tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi hati itu tidak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah terbakar. Itulah hal-hal yang harus ditakuti kata Kepala Sekolah”

Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela. Halaman 106

 

img-20180921-wa00222722289130871744503.jpg