Melacak Warisan Jepang Di Sekitar Rumah (Bagian 4)

Sampai juga di tantangan terakhir bagian 1 Melacak Warisan Jepang. Ada rasa bangga dari saya dan juga Kakak. Kakak bilang aku sekarang udah tahu deh mah kecamatan dan segala-galanya itu haha. Berikut di bawah ini adalah jurnal blog Kakak untuk kunjungan ke kantor Kecamatan.

Continue reading “Melacak Warisan Jepang Di Sekitar Rumah (Bagian 4)”

HOTS dan Nonton Film

Sejak jadi praktisi homeschooling, saya mendadak jadi pengikut PT. OGAH RUGI nih haha. Ogah rugi dalam arti setiap kegiatan yang dilakukan kakak harus bermakna, gak boleh lewat begitu saja. Ketika traveling misalnya, saya berusaha agar Kakak menggunakan mata, hati dan pikirannya lebih dalam. Ceritanya mencoba menjadi Observant Child kalo kata Nenek Charlotte Mason. Seperti yang pernah saya tulis di sini, saat traveling Kakak harus menyelesaikan jurnal dan membuat presentasi tentang perjalanannya. Sehingga traveling gak cuma jalan-jalan, beli segala mainan abis itu udah deh pulang, sungguh rugi buat saya.

Ketika kakak minta untuk nonton Ralph Breaks The Internet saya pun lagi-lagi menganut paham OGAH RUGI. Jangan sampe nih nonton abis itu udah aja pikir saya dalam hati. Kebetulan sekali saya sedang mengulik Higher Order Thinking Skills (HOTS) jadi rasanya ingin saya terapkan untuk tantangan Kakak setelah nonton Ralph.

Menurut Bloom’s Taxonomy tingkatan berpikir terdiri dari Lower Order Thinking Skills (LOTS) hingga HOTS dengan urutan dari rendah ke tinggi sebagai berikut Remembering, Understanding, Applying, Analyzing, Evaluating, Creating. Dengan HOTS, siswa diajak untuk melatih cara berpikir kritis dengan daya analisis tajam. Berat ya ? haha iya berat, melatihnya pun menurut saya gak mudah. Namun, saya merasa hal ini sangat perlu sekali terutama pada era dimana pengetahuan sudah menjadi hal yang umum sejak memasuki era internet. Pekerjaan pendidik pun menjadi semakin menantang, contohnya dulu sebelum era internet, membuat pertanyaan pada lembar kerja seperti “Jelaskan tentang negara Seychelles” rasanya sudah cukup. Sekarang pendidik ditantang untuk membuat pertanyaan yang Google proof alias pertanyaan yang jawabannya tidak bisa langsung didapat dengan bertanya pada Mbah Google hehe.

4
Pertanyaan untuk memecahkan masalah. Solusinya harus berbeda dengan fim
8
Bisa berujung pada diskusi soal digital literacy

 

7
Melatih berkreasi, menghubungkan dengan data yang ada pada film sebelumnya.

Umumnya HOTS digunakan untuk kegiatan membaca, namun rasanya tidak ada salahnya juga digunakan untuk kegiatan menonton film. Kebetulan sekali bulan ini film yang kami tunggu-tunggu akhirnya tayang di bioskop. Setelah menonton Ralph Breaks The Internet saya membuat tantangan untuk Kakak yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada konsep HOTS. Dengan melakukan ini, kegiatan menonton yang sering dianggap main-main bisa menjadi lebih bermakna. Kakak sendiri tidak merasa terbebani dengan tantangan ini karena dimulai dengan topik yang ia sukai. Walau terkesan mudah tapi lumayan bisa membuat dia berpikir. Saya juga senang karena banyak menemukan kejutan dari jawaban-jawaban Kakak.

Deschooling di Jepang (Bagian 1)

20181127_215807752799421869488996.jpg

September 2018 menjadi bulan bersejarah bagi keluarga kami, bukan karena itu ulang tahun ibu icha avrianty hehe tapi karena bulan September kami memutuskan mulai menjadi praktisi homeschooling. Artinya per September 2018 kami bebas menentukan kapan harus traveling karena tidak terikat cuti kantor serta liburan sekolah, artinya juga kami bisa traveling pada saat low season hehehe. Jadi lah September 2018 kami pergi ke Jepang.

Sejak keluar dari sekolah, anak-anak homeschooling biasanya harus melewati fase deschooling, semacam masa transisi dari sekolah ke homeschooling. Berapa lama kah proses deschooling ini ? Idealnya 1 tahun sekolah sama dengan 1 bulan deschooling. Karena Kakak sudah melewati 2 tahun usia sekolah artinya idealnya proses deschooling berlangsung selama 2 bulan. Namun, karena prinsip HS keluarga kami adalah fleksibilitas, jadi proses deschooling ini pun kami jalani mengikuti perkembangan Kakak. Lalu, dimulai lah proses deschooling di Jepang. Sebagai praktisi homeschooling tentu saja kami tidak mau traveling hanya menjadi sekedar jalan-jalan apalagi buang-buang duit untuk shopping haha. Pokoknya, harus ada ilmu yang dibawa pulang, memori yang akan dikenang anak seumur hidup dan membangkitkan rasa penasaran anak sebagai bahan bakar dia untuk belajar.

gwen's travel journal
Homemade Travel Journal
20181127_2152227977062563534197649.jpg
Menulis Jurnal Day 3 di apartemen Airbnb kami di Tokyo
IMG-20180915-WA0012.jpg
Sebagai worldschooler kadang kelas Kakak bisa jalan 100km/jam 😀

Sebelum berangkat, saya membekali Kakak dengan travel journal lengkap dengan kamera instax. Tugasnya sederhana, setiap hari Kakak harus menulis perjalanannya selama di Jepang, menulis apa saja yang menarik atau tidak enak buat dia. Walau sederhana tapi untuk Kakak lumayan menantang. Ini karena selama di sekolah, Kakak tidak pernah menemukan tujuan dia menulis, untuk apa ya aku menulis ?, kenapa aku harus menulis sesuatu yang aku gak suka ?, bagaimana aku memformulasikan ide ?. Belum selesai pertanyaan itu, Kakak sudah dicap punya tulisan jelek LOL. Ternyata, ketika Kakak menemukan tujuannya dan dilakukan dengan sukacita, tanpa ada pemaksaan dan perang urat syaraf dia mau menulis. Perjalanan menuju sempurna memang masih panjang, but i love baby steps, i love small progress, jadi walau masih sederhana banget hasilnya, namun ada kemajuan dari jurnal hari pertama sampai hari terakhir. This is where the beauty of homeschool works, bagaimana HS bisa berjalan mengikuti kecepatan belajar masing-masing anak, karena dalam dunia pendidikan harusnya kita semua percaya kalau tidak ada anak yang bodoh. Semua anak unik dengan kekuatan dan kekurangan mereka masing-masing. (Bersambung)

Keluar Dari Sekolah (Bagian 3)

Internet berperan besar sekali dalam pengambilan keputusan saya untuk mengeluarkan Kakak dari sekolah. Kenapa ? karena hidup di era internet seperti sekarang ini pada tahun 2018, banyak hal yang berubah drastis termasuk cara belajar dan mencari informasi. Namun, saya melihat sistem pendidikan khususnya di Indonesia berjalan pelan, kalau tidak mau dikatakan statis. Satu hal mendasar yang bisa saya lihat sebagai orangtua awam adalah model ruang kelas tradisional dimana anak murid duduk dan guru selama berjam-jam mentransfer pengetahuan. Jiwa-jiwa bahagia itu kadang harus dipaksa melemah karena harus mengikuti kecepatan belajar sesuai target sekolah, sedangkan setiap anak punya cara belajar yang berbeda-beda dan unik. Kakak yang termasuk anak kinestetik dan linguistik, ia senang sekali bergerak dan kritis. Seringkali dia dipaksa diam karena ingin mempertanyakan sesuatu yang buat dia tidak masuk akal. Kadang ia harus menjalani hukuman karena saat jam istirahat berakhir ia masih asik main bersama teman-temannya di halaman sekolah. Dihukum karena mengeksplorasi halaman sekolah ? hmmm lemas akuuh hehe:D

Balik lagi ke internet, dengan kecanggihan teknologi saat ini ketemu lah saya sama Khan Academy . Platform yang cukup brilian karena pertama kali saya perkenalkan pada Kakak, dia langsung tertarik dan ketagihan belajar Matematika (sungguh aneh tapi nyata) hahaha. Penasaran dong saya, setelah saya telusuri ternyata teori tentang setiap anak belajar dengan cara dan kecepatannya masing-masing itu benar adanya, there is no one size fits all. Awalnya Kakak tidak pernah merasa kesulitan sama Matematika, dia cenderung santai dan semangat mengerjakan soal demi soal sejak kelas 1 SD. Namun ketika sampai pada konsep perkalian, Kakak agak susah untuk mencerna apalagi menghapal. Lantas, belum juga selesai mencerna konsep dasar perkalian, pelajaran di sekolah sudah berlanjut ke tahap yang lebih kompleks. Hasilnya ? Kakak jadi phobia Matematika. Beruntung lah kami segera keluar dari sekolah dan saya ulang kembali dari awal konsep dasar perkalian dibantu Khan Academy.

Tidak hanya Khan Academy, di internet bertebaran sekali situs belajar online dari yang gratis seperti Khan hingga yang berbayar. Tantangannya adalah justru memilih mana yang benar-benar bermanfaat bagi kita. Berangkat dari fakta ini lah saya semakin yakin mengeluarkan Kakak dari sekolah karena semua yang kita ingin tahu dan pelajari tersaji di dunia ini baik offline atau online.

Keluar Dari Sekolah (Bagian 2)

September 2018 akhirnya memutuskan untuk menjadi homeschooler. Gwen yang setara kelas 3 SD resmi keluar dari sekolah. Mengambil pilihan non-mainstream tentu bukan sesuatu yang mudah buat saya, terlebih dengan adanya pro dan kontra dari segala penjuru membuat saya harus tebal muka. Sebelum saya jelaskan panjang lebar, perlu saya garis bawahi dulu kalau berhenti dari sekolah bukan berarti berhenti belajar. Sekolah boleh berhenti tapi belajar jalan terus, kapan aja, dimana aja.

Bagi yang masih awam soal konsep homeschooling, saya sih maklum banget. Saya sendiri sampai akhirnya memutuskan untuk jadi homeschooler harus melewati berbagai meditasi panjang dan belum berakhir sampai sekarang dan gak mau berakhir juga, just keep learning. Teori pertama yang saya telusuri berasal dari John Holt, ‘The Father of Homeschooling”. Singkatnya John Holt ini adalah mantan guru yang merasa sistem pendidikan harus segera berubah sampai akhirnya Holt berhenti menjadi guru dan menggagas konsep pendidikan rumah. Walau gagasan-gagasan beliau ditulis pada tahun 1960-70an namun masih relevan pada tahun 2018. Banyak sekali gagasan Holt yang membuat saya terinspirasi dan tepat dengan kondisi yang saya rasakan. Seperti sudah saya singgung di Bagian 1 bahwa saya khawatir dengan motivasi belajar Gwen yang redup, Holt cukup menampar saya dengan mengatakan bahwa anak-anak sering diremehkan dengan iming-iming nilai A, gambar tempel bintang dan reward lain yang menurut Holt  kurang berfaedah hehe :D.

“We destroy the love of learning in children,

which is so strong when they are small

by encouraging and compelling to work for petty

and contemptible rewards, gold stars and

papers marked 100 and tacked to the wall,

or A’s on report card

or honor rolls

or dean’s list or Phi Beta Kappa key,

in short for the ignoble satisfaction of feeling

that they are better than someone else.”

John Holt.

Selain gagasan Holt, keputusan saya mengeluarkan anak saya dari sekolah juga sedikit banyak karena tulisan Yuval Noah Harari di bukunya Homo Deus. Menurut Harari apa yang dipelajari anak-anak di sekolah saat ini sudah tidak relevan lagi untuk dipakai di masa depan. Masa depan yang menurut Harari manusia akan susah payah bersaing bukan dengan sesama manusia saja tapi juga dengan kecerdasan buatan. Saat semuanya sudah dijalankan secara otomatis oleh mesin, kecerdasan apa yang paling penting dikuasai manusia ? . Saran Harari untuk anak-anak muda agar siap menghadapi masa depan adalah fokus dengan kecerdasan emosi dan kemampuan untuk reinvent. Ini mirip sama apa yang pernah dikatakan oleh Alvin Toffler bahwa buta huruf adalah bukan mereka yang tidak bisa baca tulis tapi mereka yang tidak bisa belajar, mendobrak apa yang sudah dipelajari dan kembali belajar.

Masih banyak gagasan lain yang menguatkan saya untuk memilih jalur homeschooling bagi anak saya. Namun dua yang paling utama datang dari Holt dan Harari. Intinya dengan memilih menjadi homeschooler, goal jangka pendek saya simple tapi menantang yaitu ingin Gwen lebih tenang, kalem, mampu mengatur emosinya. Buat saya kalau urusan akademis semua anak-anak itu pintar dan dapat cepat menerima ilmu ketika kondisi emosinya sudah matang. So in our baby steps, kecerdasan emosi dulu baru akademis. Semoga kami diberi kekuatan dan petunjuk dari Allah SWT untuk menjalani babak baru dalam hidup kami ini. Bismillahirohmanirahim 🙂

Bersambung…..

Continue reading “Keluar Dari Sekolah (Bagian 2)”

Keluar Dari Sekolah (Bagian 1)

“Kak, ada tugas ga dari sekolah ?”

“Gak tahu”

“Lho kok gak tahu”

“Mamah coba lihat aja di buku penghubung aku”

Padahal saya tahu kok hari itu ada tugas dari sekolah karena sudah dapat info dari whatsapp grup kelas hehe tapi kok si kakak selalu cuek amat ya, kelewat cuek. Saya pun bertanya, apakah pelajaran yang dijadikan tugas itu menyulitkan dia. Setelah saya ajak baik-baik mengerjakan tugas ternyata kakak paham dan bisa mengerjakannya. Lalu, kenapa setiap ada tugas atau mau ada ulangan selalu sebodo amat seakan gak ada semangat. Saya tahu anak saya dan mungkin anak-anak lain juga ketika kecil mereka adalah natural born learner. Curiosity kakak kadang membuat saya kewalahan.

Sekarang di manakah mata berbinar penasaran penuh pertanyaan kritis itu ? Saya terlalu lengah sampai telat menyadarinya kalau itu memudar. Walau kakak tidak pernah mengeluh pergi ke sekolah, tapi minat belajar nya nyaris nol. Hal yang membuat dia semangat pergi ke sekolah hanya karena dia akan bermain dan bertemu teman-temannya. Apakah anak saya bodoh ? Saya yang dulu percaya bahwa setiap anak unik, mulai ragu akan teori itu dan bertanya-tanya, apakah anak saya tidak mampu belajar ?.

Berusaha bangkit dari zona nyaman, saya pun akhirnya introspeksi diri melihat kembali apa yang sudah saya lakukan. Saya mulai mencari bantuan, sibuk bertanya sana-sini, bergabung dengan komunitas ibu-ibu, parenting dan sebagainya. Paralel dengan pembenahan diri saya dan suami sebagai orangtua, saya bertekad untuk mencari sekolah baru untuk kakak. Belanja sekolah pun kami lakukan, you name it deh dari yang berbasis agama, sekolah negeri sampai yang mengusung kurikulum internasional dengan harga aduhai. Siap tempur lah kami karena sadar sekolah yang nyaris memenuhi kriteria kami harganya gak main-main. Kakak pun sempat saya daftarkan untuk pindah ke sekolah swasta itu, saya sudah ketemu guru-gurunya bahkan ketemu foundernya :D. Ketika nyaris menggelontorkan tabungan seumur hidup (lebay) haha tiba-tiba saya teringat konsep homeschooling.

Konsep lawas yang sempat saya telusuri ketika masih di bangku kuliah dan amazingly gak pernah kepikiran lagi ketika saya memutuskan untuk mempunyai anak. Wow !! kemana aja lo cha hehe..Setelah sedikit bertanya ke teman saya yang praktisi homeschooling, saya memulai proses “meditasi” riset konsep homeschooling ini. Akhirnya, September 2018 setelah “meditasi” panjang dan tentu saja dengan persetujuan suami dan kakak Gwen, Bismillahirohmanirohim..Gwen resmi keluar dari sekolah.. Yeayyyy hahaha (Bersambung..)