Keseharian Menggunakan Metode Charlotte Mason : Living Books dan Narasi

 

IMG_5958

Sering kali ketika berbincang dengan teman soal homeschooling, pasti yang tidak pernah tertinggal untuk ditanyakan adalah soal jadwal pelajaran, buku yang digunakan dan segala hal teknis lainnya. Sebenernya hal teknis ini sifatnya sangat plastis dan fleksibel, orangtua harus sering trial dan error, apa yang cocok di keluarga saya belum tentu cocok di keluarga lain. Dengan menggunakan metode Charlotte Mason pun saya tidak 100% mengacu pada amblesideonline. Suatu kenikmatan dari metode Charlotte Mason adalah metodenya yang memberikan ruang bagi orangtua untuk selalu berefleksi dan menanyakan kembali tujuan dari setiap langkah yang kita ambil. Untuk urusan praktik, bahkan masing-masing praktisi Charlotte Mason pun bisa berbeda-beda, tantangannya adalah bagaimana praktik itu tetap sejalan dengan filosofi ibu Mason.

Sejak homeschooling target saya pada setiap gemblengan akademis anak berubah total. Dulu waktu sekolah, target-target saya sekedar “Yang pentiing PR kamu selesai” “Yang penting guru kamu gak manggil mamah lagi ke sekolah” “Yang penting kamu ngerti dan gak perlu remedial” and worst “Yang penting naik kelas” . Sekarang, sehari-hari salah satu tujuan gemblengan akademis kami adalah memberikan anak sesuatu untuk dipikirkan, sesuatu untuk dilakukan dan sesuatu atau seseorang untuk dicintai, seperti yang dirumuskan oleh Karen Andreola dalam bukunya Charlotte Mason Companion.

Continue reading “Keseharian Menggunakan Metode Charlotte Mason : Living Books dan Narasi”

Keluar Dari Sekolah (Bagian 3)

Internet berperan besar sekali dalam pengambilan keputusan saya untuk mengeluarkan Kakak dari sekolah. Kenapa ? karena hidup di era internet seperti sekarang ini pada tahun 2018, banyak hal yang berubah drastis termasuk cara belajar dan mencari informasi. Namun, saya melihat sistem pendidikan khususnya di Indonesia berjalan pelan, kalau tidak mau dikatakan statis. Satu hal mendasar yang bisa saya lihat sebagai orangtua awam adalah model ruang kelas tradisional dimana anak murid duduk dan guru selama berjam-jam mentransfer pengetahuan. Jiwa-jiwa bahagia itu kadang harus dipaksa melemah karena harus mengikuti kecepatan belajar sesuai target sekolah, sedangkan setiap anak punya cara belajar yang berbeda-beda dan unik. Kakak yang termasuk anak kinestetik dan linguistik, ia senang sekali bergerak dan kritis. Seringkali dia dipaksa diam karena ingin mempertanyakan sesuatu yang buat dia tidak masuk akal. Kadang ia harus menjalani hukuman karena saat jam istirahat berakhir ia masih asik main bersama teman-temannya di halaman sekolah. Dihukum karena mengeksplorasi halaman sekolah ? hmmm lemas akuuh hehe:D

Balik lagi ke internet, dengan kecanggihan teknologi saat ini ketemu lah saya sama Khan Academy . Platform yang cukup brilian karena pertama kali saya perkenalkan pada Kakak, dia langsung tertarik dan ketagihan belajar Matematika (sungguh aneh tapi nyata) hahaha. Penasaran dong saya, setelah saya telusuri ternyata teori tentang setiap anak belajar dengan cara dan kecepatannya masing-masing itu benar adanya, there is no one size fits all. Awalnya Kakak tidak pernah merasa kesulitan sama Matematika, dia cenderung santai dan semangat mengerjakan soal demi soal sejak kelas 1 SD. Namun ketika sampai pada konsep perkalian, Kakak agak susah untuk mencerna apalagi menghapal. Lantas, belum juga selesai mencerna konsep dasar perkalian, pelajaran di sekolah sudah berlanjut ke tahap yang lebih kompleks. Hasilnya ? Kakak jadi phobia Matematika. Beruntung lah kami segera keluar dari sekolah dan saya ulang kembali dari awal konsep dasar perkalian dibantu Khan Academy.

Tidak hanya Khan Academy, di internet bertebaran sekali situs belajar online dari yang gratis seperti Khan hingga yang berbayar. Tantangannya adalah justru memilih mana yang benar-benar bermanfaat bagi kita. Berangkat dari fakta ini lah saya semakin yakin mengeluarkan Kakak dari sekolah karena semua yang kita ingin tahu dan pelajari tersaji di dunia ini baik offline atau online.

Keluar Dari Sekolah (Bagian 2)

September 2018 akhirnya memutuskan untuk menjadi homeschooler. Gwen yang setara kelas 3 SD resmi keluar dari sekolah. Mengambil pilihan non-mainstream tentu bukan sesuatu yang mudah buat saya, terlebih dengan adanya pro dan kontra dari segala penjuru membuat saya harus tebal muka. Sebelum saya jelaskan panjang lebar, perlu saya garis bawahi dulu kalau berhenti dari sekolah bukan berarti berhenti belajar. Sekolah boleh berhenti tapi belajar jalan terus, kapan aja, dimana aja.

Bagi yang masih awam soal konsep homeschooling, saya sih maklum banget. Saya sendiri sampai akhirnya memutuskan untuk jadi homeschooler harus melewati berbagai meditasi panjang dan belum berakhir sampai sekarang dan gak mau berakhir juga, just keep learning. Teori pertama yang saya telusuri berasal dari John Holt, ‘The Father of Homeschooling”. Singkatnya John Holt ini adalah mantan guru yang merasa sistem pendidikan harus segera berubah sampai akhirnya Holt berhenti menjadi guru dan menggagas konsep pendidikan rumah. Walau gagasan-gagasan beliau ditulis pada tahun 1960-70an namun masih relevan pada tahun 2018. Banyak sekali gagasan Holt yang membuat saya terinspirasi dan tepat dengan kondisi yang saya rasakan. Seperti sudah saya singgung di Bagian 1 bahwa saya khawatir dengan motivasi belajar Gwen yang redup, Holt cukup menampar saya dengan mengatakan bahwa anak-anak sering diremehkan dengan iming-iming nilai A, gambar tempel bintang dan reward lain yang menurut Holt  kurang berfaedah hehe :D.

“We destroy the love of learning in children,

which is so strong when they are small

by encouraging and compelling to work for petty

and contemptible rewards, gold stars and

papers marked 100 and tacked to the wall,

or A’s on report card

or honor rolls

or dean’s list or Phi Beta Kappa key,

in short for the ignoble satisfaction of feeling

that they are better than someone else.”

John Holt.

Selain gagasan Holt, keputusan saya mengeluarkan anak saya dari sekolah juga sedikit banyak karena tulisan Yuval Noah Harari di bukunya Homo Deus. Menurut Harari apa yang dipelajari anak-anak di sekolah saat ini sudah tidak relevan lagi untuk dipakai di masa depan. Masa depan yang menurut Harari manusia akan susah payah bersaing bukan dengan sesama manusia saja tapi juga dengan kecerdasan buatan. Saat semuanya sudah dijalankan secara otomatis oleh mesin, kecerdasan apa yang paling penting dikuasai manusia ? . Saran Harari untuk anak-anak muda agar siap menghadapi masa depan adalah fokus dengan kecerdasan emosi dan kemampuan untuk reinvent. Ini mirip sama apa yang pernah dikatakan oleh Alvin Toffler bahwa buta huruf adalah bukan mereka yang tidak bisa baca tulis tapi mereka yang tidak bisa belajar, mendobrak apa yang sudah dipelajari dan kembali belajar.

Masih banyak gagasan lain yang menguatkan saya untuk memilih jalur homeschooling bagi anak saya. Namun dua yang paling utama datang dari Holt dan Harari. Intinya dengan memilih menjadi homeschooler, goal jangka pendek saya simple tapi menantang yaitu ingin Gwen lebih tenang, kalem, mampu mengatur emosinya. Buat saya kalau urusan akademis semua anak-anak itu pintar dan dapat cepat menerima ilmu ketika kondisi emosinya sudah matang. So in our baby steps, kecerdasan emosi dulu baru akademis. Semoga kami diberi kekuatan dan petunjuk dari Allah SWT untuk menjalani babak baru dalam hidup kami ini. Bismillahirohmanirahim 🙂

Bersambung…..

Continue reading “Keluar Dari Sekolah (Bagian 2)”